Kamu nemu parfum yang wanginya kamu tuh suka banget di hidung. Tapi pas mau beli, kamu malah bingung karena ternyata ada beberapa versi dari parfum itu: ada yang tertulis Parfum (Extrait de Parfum), ada yang EDP, dan ada juga yang EDT. Semua kelihatan mirip, wanginya juga kurang lebih sama, tapi… harganya? Beda jauh! Yang satu ratusan ribu, yang lain mungkin bisa lebih mahal daripada yang biasanya. Lah, ini kenapa, ya?
Tenang, sini aku jelasin. Ini juga termasuk pertanyaan beberapa orang, apalagi buat kamu yang lagi mulai suka dunia parfum. Jawabannya ternyata simpel yaitu semua kembali ke satu hal penting: kadar minyak parfum (Konsentrasi Parfum).
Jadi begini. Dalam setiap parfum, ada campuran minyak wewangian dan alkohol. Nah, perbandingan antara dua bahan inilah yang menentukan seberapa kuat dan lama wanginya bisa bertahan di tubuhmu. Semakin tinggi kadar minyaknya, semakin ‘nempel’ aromanya di kulit, dan tentu, semakin mahal juga harganya.
1. Parfum
Parfum adalah jenis parfum dengan kadar minyak paling tinggi. Wanginya bisa bertahan sampai seharian penuh, bahkan lebih. Biasanya blendingan dalam wanginya lebih lembut, dan tidak menyengat. Karena konsentrasinya tinggi, kamu bisa pakai parfum dengan konsentrasi ini dengan sedikit ataupun cukup banyak, tergantung dari kebutuhan. Tapi disarankan cukup pakai sedikit saja itupun sudah pasti wanginya akan menempel. Tapi ya itu tadi, karena kandungan minyaknya banyak, harganya pun ikut naik.
2. Eau de Parfum
Eau de Parfum atau biasa disebut EDP. Ini adalah jenis yang paling banyak ditemukan di pasaran dan jadi favorit banyak orang. Wanginya tetap kuat dan tahan lama, biasanya sekitar enam sampai delapan jam. Cocok banget dipakai kerja, kuliah, atau aktivitas seharian tanpa harus semprot ulang. Harganya juga masih di tengah-tengah—gak semahal extrait, tapi juga bukan yang paling murah. Bisa dibilang, EDP itu adalah versi ‘pas’ buat kamu yang mau performa bagus tanpa harus keluar budget besar.
3. Eau de Toilette
Terakhir ada Eau de Toilette alias EDT. Ini biasanya punya kadar minyak lebih rendah, jadi wanginya terasa lebih ringan dan segar. Tapi karena ringan itu, daya tahannya juga lebih pendek—sekitar tiga sampai lima jam saja. EDT cocok buat kamu yang suka wewangian simple, gak terlalu mencolok, atau mungkin baru pertama kali mulai pakai parfum. Harganya biasanya juga lebih bersahabat di kantong.
Nah, walaupun dari luar botolnya mirip dan bahkan nama parfumnya sama, tiap versi punya karakter wangi yang sedikit berbeda. Versi EDT misalnya, biasanya lebih fokus di aroma awal—yang segar dan langsung ‘nendang’ saat disemprot. Tapi wanginya cepat menguap. EDP mulai terasa lebih creamy atau hangat setelah beberapa saat, karena lebih menonjolkan aroma tengah dan dasar. Sementara extrait cenderung lembut dari awal, tapi makin lama makin dalam dan berkesan.
Jadi, kalau kamu bingung mau pilih yang mana, coba lihat dari kebutuhan dan gaya hidupmu. Kalau kamu butuh parfum yang tahan dari pagi sampai malam, EDP atau extrait mungkin lebih cocok. Tapi kalau kamu lebih suka sesuatu yang ringan dan segar untuk sehari-hari, EDT bisa jadi pilihan paling nyaman. Intinya, wangi boleh mirip, tapi setiap jenis punya cara kerja dan efek yang beda.

Hai, ini merupakan sebuah komentar.
Untuk mulai memoderasi, mengedit, dan menghapus komentar, silakan kunjungi layar Komentar di dasbor.
Avatar komentator diambil dari Gravatar.